di ambil dari : www.muslim.or.id.
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan
salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang
yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi nasehat pada Ibnu ‘Abbas -
radhiyallahu ‘anhuma-,
احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ
“
Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.”
[1]
Yang dimaksud menjaga Allah di sini adalah
menjaga batasan-batasan, hak-hak, perintah, dan larangan-larangan Allah.
Yaitu seseorang menjaganya dengan melaksanakan perintah Allah, menjauhi
larangan-Nya, dan tidak melampaui batas dari batasan-Nya (berupa
perintah maupun larangan Allah). Orang yang melakukan seperti ini,
merekalah yang menjaga diri dari batasan-batasan Allah sebagaimana yang
Allah puji dalam kitab-Nya,
هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ (٣٢)مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ (٣٣)
“
Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada Setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya),
(yaitu) orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang Dia
tidak kelihatan (olehnya) dan Dia datang dengan hati yang bertaubat.” (QS. Qaaf: 32-33). Yang dimaksud dengan menjaga di sini adalah
menjaga setiap perintah Allah dan menjaga diri dari berbagai dosa serta bertaubat darinya.
[2]
Menjaga Hak Allah
Di antara bentuk penjagaan hak Allah sebagai berikut.
Pertama: Menjaga shalat
Yang utama untuk dijaga adalah shalat lima waktu yang wajib sebagaimana yang Allah firmankan,
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ (٢٣٨)
“
Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa (shalat Ashar)[3]. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (QS. Al Baqarah: 238). Yang dimaksud
shalat wustho di sini adalah shalat Ashar menurut kebanyakan ulama. Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan keras orang yang meninggalkan shalat Ashar sebagaimana dalam sabdanya,
مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ
“
Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka hapuslah amalannya.”
[4]
Allah
Ta’ala pun memuji orang-orang yang menjaga shalatnya dalam ayat lainnya,
وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاتِهِمْ يُحَافِظُونَ
“
Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (QS. Al Ma’arij: 34)
Begitu pula termasuk dalam hal ini adalah dengan menjaga thoharoh (bersuci) karena thoharoh adalah pembuka shalat. Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَلاَ يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلاَّ مُؤْمِنٌ
“
Tidak ada yang selalu menjaga wudhu melainkan ia adalah seorang mukmin.”
[5]
Kedua: Menjaga kepala dan perut
Begitu pula kita diperintahkan untuk menjaga kepala dan perut. Sebagaimana Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الاِسْتِحْيَاءَ مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَتَحْفَظَ الْبَطْنَ وَمَا حَوَى
“
Sifat malu pada Allah yang sebenarnya adalah engkau menjaga
kepalamu dan setiap yang ada di sekitarnya, begitu pula engkau menjaga
perutmu serta apa yang ada di dalamnya.”
[6]
Yang dimaksud menjaga kepala dan setiap apa yang ada di sekitarnya,
termasuk di dalamnya adalah menjaga pendengaran, penglihatan dan lisan
dari berbagai keharaman. Sedangkan yang dimaksud menjaga perut dan
segala apa yang ada di dalamnya, termasuk di dalamnya adalah menjaga
hati dari terjerumus dalam yang haram.
[7] Allah
Ta’ala berfirman,
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ
“
Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; Maka takutlah kepada-Nya.” (QS. Al Baqarah: 235)
Allah
Ta’ala juga berfirman,
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isro’: 36)
Ketiga: Menjaga lisan
Dari Abu Hurairah, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ يَضْمَنْ لِى مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
“
Barangsiapa yang menjamin padaku apa yang ada di antara dua
janggutnya (yaitu bibirnya) dan antara dua kakinya (yaitu kemaluan),
maka ia akan masuk surga.”
[8]
Keempat: Menjaga kemaluan
Allah memuji orang-orang yang menjaga kemaluan dalam beberapa ayat. Allah
Ta’ala berfirman,
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا
مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ
اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
“
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah
mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian
itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
apa yang mereka perbuat“.” (QS. An Nur: 30)
وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ
وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ
اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“
Laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki
dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah
menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Ahzab: 35)
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ
حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ
أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6)
“
Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.” (QS. Al Mu’minun: 5-6)
[9]
Yang lebih penting dari hal di atas dan merupakan hak Allah yang paling utama untuk dijaga adalah
mentauhidkan Allah dan tidak menyekutukan Allah dengan selain-Nya (baca: berbuat syirik). Karena syirik adalah kezholiman yang teramat besar. Luqman pernah berkata pada anaknya,
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“
Sesungguhnya kesyirikan adalah kezholiman yang paling besar.” (QS. Luqman: 13)
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika membonceng Mu’adz dengan keledai -yang bernama ‘Ufair-, beliau bersabda,
« يَا مُعَاذُ ، هَلْ تَدْرِى
حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ » .
قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ . قَالَ « فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ
عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ،
وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ
بِهِ شَيْئًا »
“
Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah yang wajib ditunaikan
oleh hamba-Nya dan apa hak hamba yang berhak ia dapat dari Allah?” Mu’adz mengatakan, ”
Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “
Hak
Allah yang wajib ditunaikan oleh setiap hamba adalah mereka harus
menyembah Allah dan tidak boleh berbuat syirik pada-Nya dengan sesuatu
apa pun. Sedangkan hak hamba yang berhak ia dapat adalah Allahh tidak
akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik kepada-Nya dengan sesuatu
apa pun.”
[10] Inilah hak Allah yang mesti dan wajib ditunaikan oleh setiap hamba sebelum hak-hak lainnya.
Siapa yang Menjaga Hak Allah, maka Allah akan Menjaganya
Barangsiapa menjaga diri dengan melakukan perintah dan menjauhi larangan, maka ia akan mendapatkan penjagaan dari Allah
Ta’ala.
احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ
“
Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.”
Inilah yang dimaksud
al jaza’ min jinsil ‘amal, yaitu balasan sesuai dengan amal perbuatan. Sebagaimana Allah mengatakan dalam ayat-ayat lainnya.
وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ
“
Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu.” (QS. Al Baqarah: 40)
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ
“
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” (QS. Al Baqarah: 152)
إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ
“
Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu.” (QS. Muhammad: 7)
Bentuk Penjagaan Allah
Jika seseorang menjaga hak-hak Allah sebagaimana yang telah
disebutkan di atas, maka Allah pun akan selalu menjaganya. Bentuk
penjagaan Allah ada dua macam, yaitu:
Penjagaan pertama: Allah akan menjaga urusan dunianya yaitu ia akan mendapatkan penjagaan diri, anak, keluarga dan harta.
[Penjagaan melalui Malaikat Allah]
Di antara bentuk penjagaan Allah adalah ia akan selalu mendapatkan penjagaan dari malaikat Allah. Sebagaimana Allah
Ta’ala berfirman,
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ
“
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya
bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah
Allah.” (QS. Ar Ro’du: 11). Ibnu Katsir
rahimahullah mengatakan,
“Setiap hamba memiliki malaikat yang selalu menemaninya. Malaikat
tersebut akan menjaganya siang dan malam. Mereka akan menjaganya danri
berbagai kejelekan dan kejadian-kejadian.”
[11] Ibnu ‘Abbas
radhiyallahu ‘anhuma
mengatakan, “Mereka adalah para malaikat yang akan selalu menjaganya
atas perintah Allah. Jika datang ajal barulah malaikat-malaikat tadi
meninggalkannya.” Inilah salah bentuk penjagaan Allah melalui para
malaikat bagi orang yang selalu menjaga hak-hak Allah.
[Penjagaan di Kala Usia Senja]
Begitu pula Allah akan menjaga seseorang di waktu tuanya, jika ia selalu menjaga hak Allah di waktu mudanya. Allah
akan menjaga pendengaran, penglihatan, kekuatan dan kecerdasannya.
Inilah maksud yang kami singgung dalam judul artikel ini.
Sebagaimana kami pernah membaca dalam salah satu buku fiqh madzhab
Syafi’i, matan Abi Syuja’. Dalam buku tersebut diceritakan mengenai
penulis matan yaitu Al Qodhi Abu Syuja’ (Ahmad bin Al Husain bin Ahmad
Asy Syafi’i
rahimahullah Ta’ala). Perlu diketahui bahwa beliau
adalah di antara ulama yang meninggal dunia di usia sangat tua. Umur
beliau ketika meninggal dunia adalah 160 tahun (433-596 Hijriyah).
Beliau terkenal sangat dermawan dan zuhud. Beliau sudah diberi jabatan
sebagai qodhi pada usia belia yaitu 14 tahun. Keadaan beliau di usia
senja (di atas 100 tahun), masih dalam keadaan sehat wal afiat. Begitu
pula ketika usia senja semacam itu, beliau masih diberikan kecerdasan.
Tahukah Anda apa rahasianya? Beliau tidakk punya tips khusus untuk rutin
olahraga atau yang lainnya. Namun perhatikan apa tips beliau, “
Aku
selalu menjaga anggota badanku ini dari bermaksiat pada Allah di waktu
mudaku, maka Allah pun menjaga anggota badanku ini di waktu tuaku.”
Cobalah lihat, beliau bukanlah memberikan kita tips untuk banyak
olahraga. Namun apa tips beliau? Yaitu taat pada Allah dan menjauhi
segala maksiat di waktu muda.
[12]
Ibnu Rajab
rahimahullah juga pernah menceritakan bahwa
sebagian ulama ada yang sudah berusia di atas 100 tahun. Namun ketika
itu, mereka masih diberi kekuatan dan kecerdasan. Coba bayangkan
bagaimana dengan keadaan orang-orang saat ini yang berusia seperti itu?
Diceritakan bahwa di antara ulama tersebut pernah melompat dengan
lompatan yang amat jauh. Kenapa bisa seperti itu? Ulama tersebut
mengatakan, “
Anggota badan ini selalu aku jaga agar jangan sampai
berbuat maksiat di kala aku muda. Balasannya, Allah menjaga anggota
badanku ini di waktu tuaku.” Namun ada orang yang sebaliknya, sudah
berusia senja, jompo dan biasa mengemis pada manusia. Para ulama pun
mengatakan tentang orang tersebut, “
Inilah orang yang selalu melalaikan hak Allah di waktu mudanya, maka Allah pun melalaikan dirinya di waktu tuanya.”
[13]
[Penjagaan pada keturunan]
Begitu pula Allah akan menjaga keturunan orang-orang sholih dan
selalu taat pada Allah. Di antaranya kita dapat melihat pada kisah dua
anak yatim yang mendapat penjagaan Allah karena ayahnya adalah orang
yang sholih. Allah
Ta’ala berfirman,
وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ
لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ
لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا
“
Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di
kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua,
sedang ayahnya adalah seorang yang saleh.” (QS. Al Kahfi: 82). ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz pernah mengatakan, “
Barangsiapa
seorang mukmin itu mati (artinya: ia selalu menjaga hak Allah, pen),
maka Allah akan senantiasa menjaga keturunan-keturunannya.”
Sa’id bin Al Musayyib mengatakan pada anaknya, “
Wahai anakku, aku selalu memperbanyak shalatku dengan tujuan supaya Allah selalu menjagamu.”
[14]
Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Barangsiapa menjaga (hak-hak)
Allah, maka Allah akan menjaganya dari berbagai gangguan.” Sebagian
salaf mengatakan, “Barangsiapa bertakwa pada Allah, maka Allah akan
menjaga dirinya. Barangsiapa lalai dari takwa kepada Allah, maka Allah
tidak ambil peduli padanya. Orang itu berarti telah menyia-nyiakan
dirinya sendiri. Allah sama sekali tidak butuh padanya.”
Jika seseorang berbuat maksiat, maka ia juga dapat melihat tingkah
laku yang aneh pada keluarganya bahkan pada hewan tunggangannya.
Sebagaimana sebagian salaf mengatakan, “Jika aku bermaksiat pada Allah,
maka pasti aku akan menemui tingkah laku yang aneh pada budakku bahkan
juga pada hewan tungganganku.”
[15]
Penjagaan kedua:
Penjagaan yang lebih dari penjagaan pertama, yaitu Allah akan menjaga
agama dan keimanannya. Allah akan menjaga dirinya dari pemikiran rancu
yang bisa menyesatkan dan dari berbagai syahwat yang diharamkan. Inilah
penjagaan yang lebih luar biasa dari penjagaan pertama tadi.
Hal ini dapat kita lihat sebagaimana dalam do’a sebelum tidur yang Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam ,
بِاسْمِكَ رَبِّ وَضَعْتُ
جَنْبِى وَبِكَ أَرْفَعُهُ ، إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِى فَاغْفِرْ لَهَا ،
وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ
الصَّالِحِينَ
“
Dengan menyebut nama-Mu, aku meletakkan lambungku, dan dengan
nama-Mu aku mengangkatnya. Jika engkau ingin menarik jiwaku, maka
ampunilah ia. Jika engkau ingin membiarkannya, maka jagalah ia
sebagaimana engkau menjaga hamba-hambaMu yang sholih”
[16] Dalam do’a ini terlihat bahwa Allah akan senantiasa menjaga orang-orang yang sholih.
[17]
Demikian pembahasan yang singkat dari hadits di atas. Semoga hadits
ini bisa selalu menjadi pengingat dalam setiap langkah kita.
Jagalah hak Allah, niscaya Allah akan menjagamu.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Diselesaikan di Boyolali (Jawa Tengah), 30 Shofar 1431 H (bertepatan dengan 14 Februari 2010)
Penulis:
Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel
www.muslim.or.id
[1] HR. Tirmidzi no. 2516 dan Ahmad 1/303. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[2] Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 223, Darul Muayyid, cetakan pertama, tahun 1424 H.
[3] Yang dimaksud shalat wusthaa terdapat
lima pendapat.
Ada yang mengatakan bahwa itu adalah shalat Ashar. Ada juga yang
mengatakan bahwa itu adalah shalat Shubuh, Zhuhur, Maghrib atau Isya
(Lihat
Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 1/241, Mawqi’ At Tafaasir).
Namun kebanyakan ulama mengatakan bahwa yang dimaksud
shalat wustha adalah
shalat Ashar sebagaimana banyak yang meriwayatkan hal ini dari Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Yang memilih pendapat ini adalah ‘Ali, Abdullah bin Mas’ud, Abu Ayyub,
Abu Hurairah, ‘Aisyah, Ibrahim An Nakhoi, Qotadah dan Al Hasan (Lihat
Ma’alimut Tanzil, Al Husain bin Mas’ud Al Baghowi, 1/288, Dar Thoyibah, cetakan keempat, tahun 1417 H)
[4] HR. Bukhari no. 553, dari Buraidah.
[5] HR. Ibnu Majah no. 277, dari Tsauban. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini
shahih.
[6] HR.. Tirmidzi no. 2458, dari Abdullah bin Mas’ud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini
hasan.
[7] Demikian penjelasan Ibnu Rajab dalam
Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 224.
[8] HR. Bukhari no. 6474, dari Sahl bin Sa’ad.
[9] Lihat
Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 223-224.
[10] HR. Bukhari no. 2856 dan Muslim no. 30.
[11] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 8/114, Muassasah Qurthubah.
[12] Demikian cerita yang kami peroleh dengan sedikit perubahan redaksi dari kitab
Matan Al Ghoyah wat Taqrib, yang memberikan syarh terhadap
Matan Abi Syuja’ (
Ikhtishorul Ghoyah).
[13] Lihat
Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 225.
[14] Idem.
[15] Lihat
Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 225-226.
[16] HR. Bukhari no. 7393 dan Muslim no. 2714.
[17] Lihat
Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 226.