27 Sep 2012
21 Mei 2012
RPP dan Silabus Berkarakter untuk SMP/MTs New
Download Silabus dan RPP Berkarakter untuk SMP/MTs
P Penjas
Download Gratis Rpp berkarakter Mata pelajaran penjas 2011 :
- Silabus Penjas EEK Kelas 7 Semester 1 [ Download ]
- Silabus Penjas EEK Kelas 7 Semester 2 [ Download ]
- Silabus Penjas EEK Kelas 8 Semester 1 [ Download ]
- Silabus Penjas EEK Kelas 8 Semester 2 [ Download ]
- Silabus Penjas EEK Kelas 9 Semester 1 [ Download ]
- Silabus Penjas EEK Kelas 9 Semester 2 [ Download ]
Download Gratis Rpp berkarakter Mata pelajaran penjas 2011 :
Bahasa Indonesia
Rpp
Bahasa Indonesia Berkarakter (EEK) SMP/MTs Terbaru lengkap yang dapat
di download secara gratis untuk sekolah menengah pertama kelas 7, 8 dan
9 semester 1 dan 2 (silahkan ibu dan bapak guru download) :
- Rpp Bahasa Indonesia Kelas 7 Berkarakter smt 1 [Download]
- Rpp Bahasa Indonesia Kelas 7 Berkarakter smt 2 [Download]
- Rpp Bahasa Indonesia Kelas 8 Berkarakter smt 1 [Download]
- Rpp Bahasa Indonesia Kelas 8 Berkarakter smt 2 [Download]
- Rpp Bahasa Indonesia Kelas 9 Berkarakter smt 1 [Download]
- Rpp Bahasa Indonesia Kelas 9 Berkarakter smt 2 [Download]
- Rpp Bahasa Inggris Kelas 7 Berkarakter smt 1 [Download]
- Rpp Bahasa Inggris Kelas 7 Berkarakter smt 2 [Download]
- Rpp Bahasa Inggris Kelas 8 Berkarakter smt 1 [Download]
- Rpp Bahasa Inggris Kelas 8 Berkarakter smt 2 [Download]
- Rpp Bahasa Inggris Kelas 9 Berkarakter smt 1 [Download]
- Rpp Bahasa Inggris Kelas 9 Berkarakter smt 2 [Download]
Bahasa Jawa
Berikut ini Link download Silabus mapel bahasa jawa kelas 7 SMP/MTs semester 1 dan 2, silakan download secara gratis :
- Silabus bahasa jawa kelas 7 SMP/MTs semester 1 (Download)
- Silabus bahasa jawa kelas 7 SMP/MTs semester 2 (Download)
- Rpp bahasa jawa kelas 7 SMP/MTs semester 1 (Download )
- Rpp bahasa jawa kelas 7 SMP/MTs semester 2 (Download)
- Rpp Bahasa jawa SMP/MTs kelas 8 semester 1 ( Download )
- Rpp Bahasa jawa SMP/MTs kelas 8 semester 1 ( Download )
- Rpp bahasa jawa kelas 9 SMP/MTs semester 1 ( Download )
- Rpp bahasa jawa kelas 9SMP/MTs semester 2 ( Download )
- Silabus bahasa jawa kelas 8 SMP/MTs semester 1 dan 2 ( Download )
- Silabus bahasa jawa kelas 9 SMP/MTs semester 1 ( Download )
- Silabus bahasa jawa kelas 9 SMP/MTs semester 2 ( Download )
IPS
Rpp Ips Berkarakter (EEK) SMP/MTs Download Gratis bapak dan ibu guru tercinta :)
Kelas 7
Kkm : Download.doc
Rpp : Download.doc
Silabus : Download.doc
Program Semester : Download.Xls
Standar Isi : Download.doc
Rpp Pai Kelas 7 SMP | Tambahan
kelas 8 smp untuk semester 1 dan 2
Kkm : Download.doc
Rpp : Download.doc
Silabus : Download.doc
Prosem : Download.xls
Standar isi : Download.doc
Rpp Pai Kelas 8 SMP | Tambahan
kelas 9 smp untuk semester 1 dan 2
Kkm : Download.doc
Rpp : Download.doc
Silabus : Download.doc
Standar isi : Download.doc
Rpp Pai Kelas 9 SMP | Tambahan
Ziarah Kubur dan Bacaan Yasin
Ziarah Kubur dan Bacaan Yasin
KEKUATAN SANAD HADITS
ZIARAH KUBUR ORANG TUA, FAEDAH BACAAN YASIN,
KIRIM BACAAN UNTUK ORANG MENINGGAL DUNIA, DAN BEBERAPA KOREKSI TERHADAP BUKU TANYA JAWAB AGAMA DAN HPT
Penanya:
Drs. Dimyati, Semarang
A. Pertanyaan:
Kekuatan
sanad hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakar tentang ziarah kubur
kedua orang tua atau salah satu dari mereka pada setiap hari Jum‘at,
kemudian hadits tentang membaca surat Yasin akan diampuni dia sebanyak
jumlah ayat dan huruf?
Jawaban:
Setelah melalui pelacakan dari berbagai kitab hadits, akhirnya bisa ditemukan di dalam kitab Faidl al-Qadir Syarah Kitab al-Jami‘ ash-Shaghir karya Abd ar-Rauf al-Manawi, Juz VI: 141. Teks selengkapnya adalah:
لِأَبِي
الشَّيْخِ وَالدَّيْلَمِي عَنْ أَبِي بَكْرٍ مَنْ زَارَ قَبْرَ
وَالِدَيْهِ كُلُّ جُمُعَةٍ أَوْ أَحَدِهِمَا فَقَرَأَ عِنْدَهُ يسٍ
وَالْقُرْآنِ الْحَكِيْمِ غُفِرَ لَهُ بِعَدَدِ كُلِّ أَيَةٍ وَحُرْفٍ
مِنْهَا.
Artinya: “Riwayat
Abu asy-Syaikh dan ad-Dailamiy dari Abu Bakar: Barangsiapa berziarah
kubur kedua orang tuanya atau salah satunya pada setiap hari Jum‘at,
kemudian membaca surat “Yasin wa al-Qur’an al-Hakim”, maka diampunilah
dia sebanyak jumlah ayat dan huruf dari surat itu.”
Menurut
kitab Mizan al-I‘tidal fi Naqd ar-Rijal, karya Syams ad-Din Abu
Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman adz-Dzahabi, Juz V: 316,
dinyatakan bahwa sanad hadits tersebut bathil, dengan demikian tidak bisa dijadikan hujjah.
Sedangkan
hadits kedua tentang pembacaan permulaan surat al-Baqarah di sebelah
kepala mayit, dan akhir surat al-Baqarah di sebelah kakinya, dengan
sangat menyesal belum bisa ditemukan rujukannya, meskipun sudah dilacak
di berbagai kitab hadits. Kami kesulitan menemukan kata kunci untuk
mencari hadits tersebut, karena dalam pertanyaan anda hanya menyertakan
terjemahannya.
B. Pertanyaan:
Kalau hadits tersebut tidak shahih dan tidak pula hasan, bagaimana jika menggunakan qiyas
terhadap pengiriman bacaan untuk orang yang telah meninggal dengan
hadits ‘Aisyah yaitu pemberian sedekah anak kepada ibunya yang telah
meninggal?
Jawaban:
Masalah yang anda tanyakan adalah masalah klasik, sejak dulu menjadi khilafiyah.
Namun bagaimana pandangan Islam terhadap masalah tersebut, dan pendapat
mana yang lebih patut diterima jika dihadapkan keada dalil-dalil
hukumnya?
Al-Qur’an surat an-Najm (53) ayat 38 dan 39 mengajarkan:
أَلاَّ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى. وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلاَّ مَا سَعَى.
Artinya: “Bahwasanya
seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya
seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”
Dari
dua ayat di atas, diperoleh penegasan bahwa seseorang yang berdosa
adalah akibat perbuatan yang dilakukannya sendiri. Dan bahwa manusia
hanya akan memperoleh pahala atas perbuatan yang dilakukannya sendiri
pula. Kemungkinan seseorang ikut dibebani dosa perbuatan orang lain
hanyalah jika seseorang itu berpartisipasi dalam terjadinya perbuatan
dosa orang lain itu. Demikian juga orang dapat menerima pahala perbuatan
yang dilakukan orang lain, jika ia berpartisipasi dalam terjadinya
perbuatan orang lain itu. Hadits Nabi saw mengajarkan:
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ
مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا
إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ اْلإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ
تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا. [رواه مسلم: ج: 4 ص: 2060].
Artinya: “Diriwayatkan
dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa
mengajak kepada petunjuk (kebaikan), maka ia akan mendapat pahala
seperti pahala-pahala yang diberikan kepada orang-orang yang mengikuti
ajakannya, tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka; dan orang yang
mengajak kepada kesesatan, maka ia akan menerima dosa seperti dosa
orang-orang yang mengikuti ajakannya, tanpa mengurangi dosa-dosa
mereka.” [HR. Muslim, Juz IV: 2060].
Hadits Nabi saw yang lain:
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ
ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ
أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ. [رواه مسلم].
Artinya: “Diriwayatkan
dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Jika manusia
telah meninggal, maka terputuslah (pahala) amalnya, kecuali tiga macam
amal; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang
mendoakan baik untuknya.” [HR. Muslim].
Tiga
macam amal yang masih mengalir terus pahalanya, sampaipun yang beramal
telah meninggal dunia, seperti disebutkan dalam hadits tersebut,
hakikatnya adalah amal yang dilakukan sendiri oleh yang bersangkutan,
bukan amal yang dilakukan oleh orang lain.
Hadits tentang anak yang menyedekahkan harta atas nama ibunya:
عَنْ
عَائِشَةَ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَإِنَّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ
تَصَدَّقَتْ أَفَأَتَصَدَّقُ عَنْهَا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ فَتَصَدَّقَ عَنْهَا. [رواه النسائى].
Artinya: “Diriwayatkan
dari ‘Aisyah, bahwasanya seorang shahabat datang kepada Rasulullah saw
dan bertanya: Sesungguhnya ibuku telah meninggal dengan tiba-tiba,
sekiranya ia sempat berbicara niscaya ia akan menyedekahkan sebagian
hartanya. Dapatkah aku bersedekah atas nama ibuku (ibunya juga akan
memperoleh pahala)?. Rasulullah saw menjawab ‘dapat’, maka ia bersedekah
atas nama ibunya” [HR. an-Nasa’i].
Dari
dalil-dalil di atas dapat diambil pelajaran bahwa kedudukan anak
terhadap orang tua itu dapat dihubungkan dengan amal orang tua ketika
hidup telah mendidik anaknya, sehingga anak dapat merasakan wajib
berbuat baik kepada orang tuanya sampaipun setelah mereka meninggal
dunia. Jadi orang tua yang mempunyai anak demikian itu hakikatnya
memetik amalnya sendiri ketika masih hidup, yaitu mendidik anak untuk
menjadi anak yang shaleh. Maka amal anak atas nama orang tua tidak
termasuk pembicaraan menghadiahkan pahala amal shaleh.
Seseorang
yang mendoakan baik untuk orang lain, baik yang masih hidup maupun yang
telah meninggal dunia, tidak ada masalah sama sekali. Seperti shalat
jenazah berisi doa yang dimohonkan kepada Allah bagi orang yang
meninggal dunia itu. Atau doa yang sering kita baca, misalnya:
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ.
Oleh karena itu mendoakan orang lain bukan masalah menghadiahkan pahala amal bagi orang lain.
Memperhatikan
bahwa tidak ada ajaran khusus tentang menghadiahkan pahala amal kepada
orang lain, baik dari al-Qur’an maupun darti al-Hadits, para shahabat
Nabi pun tidak melakukannya. Maka yang paling selamat adalah berpegang
saja kepada nash yang ada. Tentang qiyas yang anda tanyakan, dalam kasus ini tidak bisa diberlakukan karena bertentangan dengan nash yang lebih tegas. Qiyas dalam bidang ibadah seperti ini, hanya qiyas yang dilakukan oleh Nabi saw yang bisa diterima.
Adapun
menganut pendapat dapat sampainya hadiah pahala amal kebajikan kepada
orang lain, sering berakibat negatif. Orang yang kurang beramal shaleh
menjagakan hadiah pahala dari orang lain.
C. Pertanyaan:
Pada buku Tanya Jawab Agama Juz IV halaman 87, hadits riwayat ad-Daruquthni dari Ibnu Abbas belum selesai.
Jawaban:
Setelah kami cek di dalam kitab Sunan ad-Daruquthni Juz I: 304, memang benar ada kekurangan, yaitu kalimat: hatta qubidla. Maka teks selengkapnya berbunyi:
إِنَّ
النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَزَلْ يَجْهَرُ فِي
السُّوْرَتَيْنِ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ حَتَّى قُبِضَ.
[رواه الدارقطنى عن ابن عباس].
Artinya: “Bahwasanya
Nabi saw tetap membaca ‘bismillahirrahmanirrahim’ dengan nyaring di
(permulaan) dua surat (pada waktu membaca al-Fatihah dan pada waktu
membaca surat lain sesudah al-Fatihah) sampai beliau wafat.” [HR. ad-Daruquthni dari Ibnu Abbas].
D. Pertanyaan:
Di dalam buku HPT halaman 160, memang benar seharusnya tertulis 46 – 60 ekor unta, bukan 49 - 60 ekor unta.
Pada halaman 155 tertulis 76 – 90 ekor unta dikenakan zakat 2 ekor anak
unta betina umur 3 tahun. Sedangkan pada halaman 160, tertulis 76 – 90
ekor unta, dikenakan zakat 2 ekor anak unta betina umur 2 tahun. Mana
yang benar?
Jawaban:
Yang benar adalah 76 – 90 ekor unta, dikenakan zakat 2 ekor anak unta betina umur 2 tahun lebih (2 tahun menginjak tahun ketiga).
D. Tim Fatwa
mengucapkan terima kasih atas koreksian anda terhadap beberapa
kesalahan cetak yang terdapat di dalam buku “Tanya Jawab Agama”.
Misalnya anda menyebutkan buku jilid III halaman 67, tertulis surat
an-Nahl ayat 96 seharusnya ayat 98, jika yang dimaksud adalah membaca
“ta‘awudz” maka pada buku jilid III edisi 1995 halaman 80, sudah seperti
yang dimaksud. Buku jilid III halaman 143 tertulis ayat 10 surat
al-Isra’ ternyata teksnya tidak seperti yang dimaksud. Pada buku edisi
1995, terdapat pada halaman 166 masih tertulis al-Isra’ ayat 10. Yang
benar adalah surat al-Isra’ ayat 110, teksnya berbunyi:
وَلاَ تَجْهَرْ بِصَلاَتِكَ وَلاَ تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلاً.
Buku
jilid III halaman 145 menjelaskan surat al-Baqarah ayat 187, tetapi
kemasukan ayat 10 surat al-Isra’. Dalam buku jilid III edisi 1995,
halaman 168 tentang junub, jima’ dan lain-lain, jika ini yang dimaksud,
maka ayat 10 surat al-Isra’ sudah tidak ada lagi.
Wallahu a’lam bish-shawwab. *fz)
Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid
Pimpinan Pusat Muhammadiyah
23 Apr 2012
Liputan Media Masa Persiapan UN 2012 MTs Muhsa Gondangrejo
Minggu 22 April 2012, tepatnya menjelang adzan Maghrib disebuah madrasah di kawasan Kabupaten Karanganyar tepatnya Kecamatan Gondangrejo. MTs Muhammadiyah 1 (MUHSA) Gondangrejo namanya, madrasah di pinggiran perbatasan tiga kabupaten ini memiliki trik khusus dalam mempersiapkan peserta didiknya yang akan melaksanakan UN 2012, seperti dikutip dalam Liputan 6 News hari Senin bahwa MTs Muhammadiyah 1 Gondangrejo mempunyai trik yang telah dilakukan kurun 5 tahun ini dinilai efektif untuk mendongkrak nilai UN peserta didik ada beberapa kegiatan untuk mempersiapkan peserta didik yang akan melaksanakan UN :
1. SBT (Spiritual Building Training)
SBT yang dilaksanakan bekerja sama dengan Lembaga ALFA CENTRE Sragen, untuk membekali peserta didik siap UN dan bukan menjadikan UN momok yang berat.
2. Karantina
Sebagai bentuk untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan pihak madrasah melakukan karantina bagi peserta UN di MTs Muhammadiyah 1 Gondangrejo, di sisi lain pihak madrasah juga dapat membantu segala kesulitan anak dalam belajar dikarenakan tidak dipungkiri orang tua juga akan mengalami kesulitan jikalau anak bertanya berkaitan dengan pelajaran itu.
karantina akan dilaksanakan selama UN berlangsung mulai tanggal 22 - 26 April 2012.
14 Apr 2012
Anak Nakal, Bagaimana Mengatasinya? (2)
diambil dari artikel aslinya : www.muslim.or.id
Sebab Kenakalan Anak Menurut Kacamata Islam
Termasuk sebab utama yang memicu penyimpangan akhlak pada anak, bahkan pada semua manusia secara umum, adalah godaan setan yang telah bersumpah di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menyesatkan manusia dari jalan-Nya yang lurus. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأقْعُدَنَّ
لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ. ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ
أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ
وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
“Iblis (setan) berkata, ‘Karena Engkau telah menghukumi saya
tersesat, sungguh saya akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus,
kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang
mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati
kebanyakan mereka bersyukur (taat kepada-Mu).’” (QS. Al-A’raf: 16-17).Dalam upayanya untuk menyesatkan manusia dari jalan yang benar, setan berusaha menanamkan benih-benih kesesatan pada diri manusia sejak pertama kali mereka dilahirkan ke dunia ini, untuk memudahkan usahanya selanjutnya setelah manusia itu dewasa.
Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dalam keadaan hanif (suci dan cenderung kepada kebenaran), kemudian setan mendatangi mereka dan memalingkan mereka dari agama mereka (Islam).”[1]
Dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tangisan seorang bayi ketika (baru) dilahirkan adalah tusukan (godaan untuk menyesatkan) yang berasal dari setan.“[2]
Perhatikanlah hadits yang agung ini! Betapa setan berupaya keras untuk menyesatkan manusia sejak mereka dilahirkan ke dunia. Padahal, bayi yang baru lahir tentu belum mengenal nafsu, indahnya dunia, dan godaan-godaan duniawi lainnya, maka bagaimana keadaannya kalau dia telah dewasa dan mengenal semua godaan tersebut?[3]
Di samping sebab utama di atas, ada faktor-faktor lain yang memicu dan mempengaruhi penyimpangan akhlak pada anak, berdasarkan keterangan dari ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Di antara faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
Pertama, pengaruh didikan buruk kedua orangtua
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua bayi (manusia) dilahirkan di atas fithrah (kecenderungan menerima kebenaran Islam dan tauhid), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya (beragama) Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”[4]
Hadits ini menunjukkan bahwa semua manusia yang dilahirkan di dunia memiliki hati yang cenderung kepada Islam dan tauhid, sehingga kalau dibiarkan dan tidak dipengaruhi maka nantinya dia akan menerima kebenaran Islam. Akan tetapi, kedua orang tuanyalah yang memberikan pengaruh buruk, bahkan menanamkan kekafiran dan kesyirikan kepadanya.[5]
Syekh Bakr Abu Zaid berkata, “Hadits yang agung ini menjelaskan sejauh mana pengaruh dari kedua orangtua terhadap (pendidikan) anaknya, dan (pengaruh mereka dalam) mengubah anak tersebut dalam penyimpangan dari konseuensi (kesucian) fitrahnya kepada kekafiran dan kefasikan….
(Di antara contoh pengaruh buruk tersebut adalah) jika seorang ibu tidak memakai hijab (pakaian yang menutup aurat), tidak menjaga kehormatan dirinya, sering keluar rumah (tanpa ada alasan yang dibenarkan agama), suka berdandan dengan menampakkan (kecantikannya di luar rumah), senang bergaul dengan kaum lelaki yang bukan mahram-nya, dan lain sebagainya, maka ini (secara tidak langsung) merupakan pendidikan (yang berupa) praktik (nyata) bagi anaknya, untuk (mengarahkannya kepada) penyimpangan (akhlak) dan memalingkannya dari pendidikan baik yang membuahkan hasil yang terpuji, berupa (kesadaran untuk) memakai hijab (pakaian yang menutup aurat), menjaga kehormatan dan kesucian diri, serta (memiliki) rasa malu. Inilah yang dinamakan ‘pengajaran pada fitrah (manusia)’.”[6]
Kedua, pengaruh lingkungan dan teman bergaul yang buruk
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Perumpamaan teman duduk (bergaul) yang baik dan teman duduk (bergaul) yang buruk (adalah) seperti pembawa (penjual) minyak wangi dan peniup al-kiir (tempat menempa besi). Maka, penjual minyak wangi bisa jadi memberimu minyak wangi atau kamu membeli (minyak wangi) darinya, atau (minimal) kamu akan mencium aroma yang harum darinya. Sedangkan peniup al-kiir (tempat menempa besi), bisa jadi (apinya) akan membakar pakaianmu atau (minimal) kamu akan mencium aroma yang tidak sedap darinya.”[7]
Hadits yang mulia ini menunjukkan keutamaan duduk dan bergaul dengan orang-orang yang baik akhlak dan tingkah lakunya, karena adanya pengaruh baik yang ditimbulkan dengan selalu menyertai mereka. Hadits tersebut sekaligus menunjukkan larangan bergaul dengan orang-orang yang buruk akhlaknya dan pelaku maksiat karena pengaruh buruk yang ditimbulkan dengan selalu menyertai mereka.[8]
Ketiga, sumber bacaan dan tontonan
Pada umumnya, anak-anak mempunyai jiwa yang masih polos, sehingga sangat mudah terpengaruh dan mengikuti apa pun yang dilihat dan didengarnya dari sumber bacaan atau berbagai tontonan.
Apalagi, memang kebiasan meniru dan mengikuti orang lain merupakan salah satu watak bawaan manusia sejak lahir, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الأرواح جنود مجندة، فما تعارف منها ائتلف وما تناكر اختلف
“Ruh-ruh manusia adalah kelompok yang selalu bersama. Maka, yang
saling bersesuaian di antara mereka akan saling berdekatan, dan yang
tidak bersesuaian akan saling berselisih.”[9]Oleh karena itulah, metode pendidikan dengan menampilkan contoh figur untuk diteladani adalah termasuk salah satu metode pendidikan yang sangat efektif dan bermanfaat.
Syekh Abdurrahman as-Sa’di berkata ketika menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
وَكُلا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ
الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ
وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ
“Dan semua kisah para rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah
kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu, dan dalam surat ini
telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi
orang-orang yang beriman.” (QS. Hud: 120).Beliau berkata, “Yaitu, supaya hatimu tenang dan teguh (dalam keimanan), dan (supaya kamu) bersabar seperti sabarnya para rasul ‘alaihimus sallam, karena jiwa manusia (cenderung) senang meniru dan mengikuti (orang lain), dan (ini menjadikannya lebih) bersemangat dalam beramal shalih, serta berlomba dalam mengerjakan kebaikan….”[10]
-bersambung insya Allah-
Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, M.AArtikel www.muslim.or.id
[1] Hadits shahih riwayat Muslim, no. 2865. [2] Hadits shahih riwayat Muslim, no. 2367.
[3] Lihat kitab Ahkamul Maulud fis Sunnatil Muthahharah, hlm. 23.
[4] Hadits shahih riwayat Al-Bukhari no. 1319, dan Muslim no. 2658.
[5] Lihat kitab ‘Aunul Ma’bud: 12/319–320.
[6] Kitab Hirasatul Fadhilah, hlm. 130–131.
[7] Hadits shahih riwayat Al-Bukhari no. 5214, dan Muslim no. 2628.
[8] Lihat kitab Syarhu Shahihi Muslim: 16/178 dan Faidhul Qadir: 3/4.
[9] Hadits shahih riwayat Al-Bukhari no. 3158, dan Muslim no. 2638.
[10] Kitab Taisirul Karimir Rahman, hlm. 392.
Anak Nakal, Bagaimana Mengatasinya? (1)
Mendidik anak merupakan perkara yang mulia tapi gampang-gampang susah dilakukan, karena di satu sisi, setiap orang tua tentu menginginkan anaknya tumbuh dengan akhlak dan tingkah laku terpuji, tapi di sisi lain, mayoritas orang tua terlalu dikuasai rasa tidak tega untuk tidak menuruti semua keinginan sang anak, sampai pun dalam hal-hal yang akan merusak pembinaan akhlaknya.
Sebagai orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita meyakini bahwa sebaik-baik nasihat untuk kebaikan hidup kita dan keluarga adalah petunjuk yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam al-Qur-an dan sabda-sabda nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ
مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى
وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ. قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ
فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu nasihat dari Rabb-mu
(Allah Subhanahu wa Ta’ala), penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam
dada (hati manusia) dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang
beriman. Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah
dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu adalah lebih
baik dari perhiasan duniawi yang dikumpulkan oleh manusia.’” (QS. Yunus: 57-58).Dalam hal yang berhubungan dengan pendidikan anak, secara khusus Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan orang-orang yang beriman akan besarnya fitnah yang ditimbulkan karena kecintaan yang melampaui batas terhadap mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوّاً لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara
istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka
berhati-hatilah kamu terhadap mereka…” (QS. at-Taghabun: 14).Makna “menjadi musuh bagimu” dalam firman-Nya adalah “melalaikan kamu dari melakuakan amal shalih dan bisa menjerumuskanmu ke dalam perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”[1]
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “…Karena jiwa manusia memiliki fitrah untuk cinta kepada istri dan anak-anak, maka (dalam ayat ini) Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan hamba-hamba-Nya agar (jangan sampai) kecintaan ini menjadikan mereka menuruti semua keinginan istri dan anak-anak mereka dalam hal-hal yang dilarang dalam syariat. Dan Dia memotivasi hamba-hamba-Nya untuk (selalu) melaksanakan perintah-perintah-Nya dan mendahulukan keridhaan-Nya….”[2]
Fenomena Kenakalan Anak
Fenomena ini merupakan perkara besar yang cukup memusingkan dan menjadi beban pikiran para orangtua dan pendidik, karena fenomena ini cukup merata dan dikeluhkan oleh mayoritas masyarakat, tidak terkecuali kaum muslimin.
Padahal, syariat Islam yang sempurna telah mengajarkan segala sesuatu kepada umat Islam, sampai dalam masalah yang sekecil-kecilnya, apalagi masalah besar dan penting seperti pendidikan anak. Sahabat yang mulia, Salman Al-Farisi radhiallahu ‘anhu pernah ditanya oleh seorang musyrik, “Sungguhkah Nabi kalian (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai (masalah) adab buang air besar?” Salman menjawab, “Benar. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami menghadap ke kiblat ketika buang air besar atau ketika buang air kecil….”[3]
Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mensyariatkan agama ini Dialah yang menciptakan alam semesta beserta isinya dan Dialah yang maha mengetahui kondisi semua makhluk-Nya serta cara untuk memperbaiki keadaan mereka? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
أَلا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
“Bukankah Allah yang menciptakan (alam semesta besrta isinya)
Maha Mengetahui (keadaan mereka)?, dan Dia Maha Halus lagi Maha
Mengetahui (segala sesuatu dengan terperinci).” (QS. al-Mulk: 14).Akan tetapi, kenyataan pahit yang terjadi adalah, untuk mengatasi fenomena buruk tersebut, mayoritas kaum muslimin justru lebih percaya dan kagum terhadap teori-teori/ metode pendidikan anak yang diajarkan oleh orang-orang barat, yang notabene kafir dan tidak mengenal keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga mereka rela mencurahkan waktu, tenaga dan biaya besar untuk mengaplikasikan teori-teori tersebut kepada anak-anak mereka.
Mereka lupa bahwa orang-orang kafir tersebut sendiri tidak mengetahui dan mengusahakan kebaikan untuk diri mereka sendiri, karena mereka sangat jauh berpaling dan lalai dari mengenal kebesaran Allah ‘Azza wa Jalla yang menciptakan mereka, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan mereka lupa kepada segala kebaikan dan kemuliaan untuk diri mereka sendiri.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa (lalai) kepada
Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri,
mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. al-Hasyr: 19)Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata, “Renungkanlah ayat (yang mulia) ini, maka kamu akan menemukan suatu makna yang agung dan mulia di dalamnya, yaitu barangsiapa yang lupa kepada Allah, maka Allah akan menjadikan dia lupa kepada dirinya sendiri, sehingga dia tidak mengetahui hakikat dan kebaikan-kebaikan untuk dirinya sendiri. Bahkan, dia melupakan jalan untuk kebaikan dan keberuntungan dirinya di dunia dan akhirat. Dikarena dia telah berpaling dari fitrah yang Allah jadikan bagi dirinya, lalu dia lupa kepada Allah, maka Allah menjadikannya lupa kepada diri dan perilakunya sendiri, juga kepada kesempurnaan, kesucian dan kebahagiaan dirinya di dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَلا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطاً
“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang telah kami lalaikan
hatinya dari mengingat Kami, serta menuruti hawa (nafsu)nya, dan
keadaannya itu melampaui batas.” (QS. al-Kahfi: 28).Dikarenakan dia lalai dari mengingat Allah, maka keadaan dan hatinya pun melampaui batas (menjadi rusak), sehingga dia tidak memperhatikan sedikit pun kebaikan, kesempurnaan serta kesucian jiwa dan hatinya. Bahkan, (kondisi) hatinya (menjadi) tak menentu dan tidak terarah, keadaannya melampaui batas, kebingungan serta tidak mendapatkan petunjuk ke jalan (yang benar).”[4]
Maka orang yang keadaannya seperti ini, apakah bisa diharapkan memberikan bimbingan kebaikan untuk orang lain, sedangkan untuk dirinya sendiri saja kebaikan tersebut tidak bisa diusahakannya? Mungkinkah orang yang seperti ini keadaannya akan merumuskan metode pendidikan anak yang baik dan benar dengan pikirannya, padahal pikiran mereka jauh dari petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memahami kebenaran yang hakiki? Adakah yang mau mengambil pelajaran dari semua ini?
–Bersambung insya Allah–
Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, MA
Artikel www.muslim.or.id
1] Lihat Tafsir Ibnu Katsir: 4/482.
[2] Taisirul Karimir Rahman, hlm. 637.
[3] Hadits shahih riwayat Muslim, no. 262.
[4] Kitab Miftahu Daris Sa’adah: 1/86.









